An engineer (soon to be), a dancer, a food enthusiast, an amateur food photographer, a traveller, a lover.

Sunday, October 14, 2018

Jumat, 12 Oktober 2018

Gua dan Yasser berniat mau menonton Asian Para Games yang digembar-gemborkan sepi peminat. Kasian juga kan paraatlet kita udah latian demi merah putih, ko dari bangsanya sendiri ga ada yang ngedukung. Dengan alasan itulah gua tertarik untuk ikut meramaikan di 1 hari sebelum terakhir Asian Para Games. Karena kalo menurut gua garing kalo cuma berdua, *ntar dikira homo kan ga lucu yha* makanya kita ngajaklah teman2 kantor, yang jadinya ikut akhirnya cuma Aldi saja. Oke, akhirnya kita berangkat dari kantor jam setengah 6.

Setelah berdiskusi panjang lebar, akhirnya kami memutuskan untuk naik motor saja, mempertimbangkan menggunakan shuttle SCBD sangat tidak mungkin (karena macet) dan pada mager kalo mesti jalan kaki. Terlebih Yasser dan Aldi yang mesti ngambil motornya lagi di plazman. Gua berangkat bareng Yasser, karena ga pake helm, akhirnya gua diturunin di energy building yang kemudian gua tinggal nyebrang ke GBK pake Jembatan Penyebrangan Orang (JPO). Ga lama, gua akhirnya bertemu yasser, doi parkir di kemendikbud ternyata. Soalnya parkiran FX penuh. Kami bener2 ga nyangka kalo Asian Para Games di 1 hari sebelum terakhir itu bener2 chaos, rame bener. Terlebih untuk ngantri beli tiket paraatletik. Karena males ngantri dan kata volunteernya di dalem GBK masih ada loket yang buka untuk jualan tiket paratletik, jadilah kami membeli tiket festivalnya dulu, asalkan bisa masuk, amanlah pikir gua. Harga tiketnya pun mure, cuma 10 rebu saja.
baru kepikiran buat difoto

Setelah kami berhasil masuk ke dalam GBK, gua pikir bisa nonton nongkrong2 di lapangan tengah pake videotron. Ternyata pikiran gua salah, videotronnya kaga ada masya Allah. . Jadilah kami langsung menuju SUGBK, mencari booth tiket yang kami harap masih menjual tiket paraatletik dan sepi. Pas nyampe, ya u know, tutup boothnya wtf.

Panas brok
Karena gua melihat bahwa gerbang SUGBK sangatlah lebar, gua jadi kepikiran, dimana pintu keluarnya. Disini perlu diperjelas, kenapa gua mencari pintu keluar SUGBK instead of pintu masuk? Ya lu pikir aja, gua ga punya tiket, gimana caranya gua bisa masuk ke dalem? Gua nyari pintu keluar buat nyegat orang yang udah pengen pulang, buat minta tiket terusannya doi, supaya gua bisa masuk ke dalem. Jadi sistem untuk nonton Paraatletik ini adalah, pertama yang jelas lu mesti punya tiket nonton paratletiknya, trus tiket lu discan, setelah discan, tangan lu akan dicap. Setelah memikirkan strategi bermacam-macam, mulai dari yang gua sebutin tadi, ampe muterin SUGBK ke pintu masuk satunya lagi, akhirnya tak ada yang membuahkan hasil. Gua, yasser, dan aldi masih terjebak di luar SUGBK, berdiri mencari strategi yang lain supaya bisa masuk.

Sekitar jam setengah 8, penjagaan di pintu keluar dah mulai lengang, dan sebenernya sejak awal kami berdiri bertiga, banyak orang yang masuk dari pintu keluar. *yha, itu bisa terjadi karena mereka memang sudah memiliki cap di tangan sih . .* tapi poinnya adalah, hal itu bisa kami lakukan, dengan catatan, kalo kami nekat haha. Akhirnya kami bertiga agak sedikit mencar, mencoba agar tidak terlalu menarik perhatian, karena menurut gua mas-mas dan mbak-mbak penjaganya dah mulai curiga juga sama kami bertiga, "ni orang tiga kenapa dari tadi di luar doank, kaga masuk2, mana daritadi nyamperin orang yang keluar mulu pula". Setelah Pak TNI *FYI, ada TNI2 yang ngejaga juga di pintu keluar, ga cuma volunteer aja, ya ini sih mungkin biar mencegah keributan kali ya sebenernya*, agak lengah, yasser masuk, disusul aldi dan terakhir gua, anjir itu gua jarak antara aldi sama gua jauh bener, udah takut aja diteriakin penjaga dari gerbang.

Finally, we're in.

Tapi tantangan lain muncul ketika kami sudah di dalam:
Ada pintu yang dijaga volunteer
Matilah, gua pikir. Udah masuk susah2, masa ga bisa nonton langsung ke pertandingan gara2 ga ada tiket? Untungnya itu cuma pikiran gua doank, ternyata ada pintu yang ga ada penjaganya, jadi kami masuk aja ke dalam uhuy!

yoi
Di saat kami sudah duduk, ternyata pertandingan yang sedang digelar ialah lomba lari 5KM cowo, sayangnya ga ada perwakilan dari Indonesia. Mungkin saja perwakilan kita tidak lulus kualifikasi menuju final. Pertandingan itu dimenangi oleh wakil dari Jepang dengan catatan waktu sekitar 16 menit. Gila, gua aja dulu lari 2400 meter, udah dapet nilai A kalo misalkan waktu gua maksimal 12 menit. Lah ini? Cuma nambah 4 menit bisa nambah 2600 meter gitu? Sades emang atlet olimpiade mah beda ckck.

kondisi dalam stadion

Ga lama, perlombaan diganti menjadi lomba estafet campuran 4 x 100 Meter. Dan kali ini ada perwakilan dari Indonesia. Alhamdulillah pertandingan estafet campuran tersebut dapat menambah koleksi medali perunggu bagi Indonesia. Jam 8 selesai semua pertandingan, tinggal menunggu seremoni penyerahan medali saja. Kami memutuskan untuk cabut, galau antara mau lanjut nonton pertandingan lain atau tidak. Tapi sejujurnya karena kami sebenernya ga punya tiket terusan, jadi gua ga terlalu niat2 amat liat pertandingan selanjutnya, padahal masih ada basket dan renang kalau tidak salah.

Rame banget kan? Kan?
Karena yang lain pun tidak terlalu antusias untuk melanjutkan nonton, kami pun memutuskan untuk pulang. Dan selesailah kegilaan kami mencoba masuk ke dalam SUGBK tanpa memiliki tiket terusan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

P.S. Aku rasa perlu dipertegas, disini kami tidak berniat untuk tidak membeli tiket paratletik, kami sudah mencoba masuk ke dalam GBK dengan membeli tiket festival, namun apa daya, ternyata di dalam GBK, booth yang menjual tiket sudah tutup. Apalagi mengingat bahwa tiket paraatletik sangatlah murah, cuma 25 rebu. Jadi disini bukan harga yang menjadi alasan kami untuk menerobos masuk SUGBK, hanya.. mager ngantri panjang ehe. Cheers! Have a nice day!

Wednesday, October 10, 2018

LOL. Judulnya lebay aja, biar diklik. Padahal mah isinya cuma kekesalan gua aja kenapa orang2 di negara ini lebih mementingkan agama dari prestasi yang diraih? Entah itu ga bermoral kah kalo ga beragama atau apa. Plis la, emang negara lain nanya, "eh negara lo agamanya apa? Gua mau invest di negara lo ah kalo agama negara lu X". Funny.

Tuesday, September 11, 2018


ICE BSD, Aug 25th 2018

I wait to this day, the day I finally meet Paramore (again) since their last concert in Indonesia Aug 2011. During the show, Hayley said that the concert they was held in Indonesia is the second last concert for their after laughter album. Now they are taking their break. I don't know until when, because Hayley didn't say anything about how long they will take a break, but I hope they enjoy their time and soon back to Paramore.

I like Paramore, especially Hayley when she is on the stage. If you look at my video, she is so agile or I would say, "tengil" or something like that. (well, I don't know the word that can describe hayley's act when she is on the stage, if you do, please help me by comment in the comment section ๐Ÿ˜‰). It makes hayley look cute but in the same time she's so energetic hmm..

spread love.
I enjoy every minute I spend, before the concert, at the concert or even after the concert. I thank to God before the concert I have some time to know well my friend's boyfriend ๐Ÿ˜„. Thank God for the queue is not very long, and I don't spend much time queuing because I just arrive at the ICE around 3 p.m. At the concert, before Paramore, there's an opening band Kotak. How lucky they are can have an opprtunity in the same stage with Paramore. After the concert, I drove my friend to her home and in along the way we talk much about that concert. After that, I meet Intan to have a dinner together until 1 a.m. ? I forget, but it's late actually.

Hayley WIlliams
FYI, in the last concert at Nashville, Hayley said Misery Business will no longer play again in live performance, u can check the news at here. Well, I don't know how to react but I feel sad knowing that truth because that song is one of my favorite song from Paramore. But yeah, it's okay if they think that's the right thing to do. After all, they have been able to get through the Hard Times.

Saturday, August 25, 2018

Selalu terbuka kesempatan untuk melakukan hal yang pertama kali. Pulang dari kantor shubuh2 misalnya.

~25 Agustus 2018

Monday, August 13, 2018

Malam ini, secara random, gua menemukan selebgram @hanindhyaatys gara2 tab di explore instagram.

Fokus ke seragam SMA
Doi ada di tengah, pake seragam SMA. Nah gua mau bahas kenapa judul blog gua seperti ini. Jadi ketika gua cek profil ig dia, youtube terakhirnya ialah cover lagu Pupus (Dewa 19) yg diremake videonya. Kalian bisa liat videonya di bawah.


Pada dasarnya lagunya Dewa emang enak2 ya, apalagi pas masih zaman2 keemasannya mereka. Udah gitu ditambah video ini, suasana jadi agak2 sendu sedih gitu. Gua yg tadinya sedang istirahat belajar (gara2 rabu ada ujian), moodnya jadi berubah (+ ngantuk) sehingga males belajar lagi.

Absurd juga nih kalo dipikir2 blog gua kali ini. Tapi gua yakin, kalian pasti bisa mengambil makna dari sebuah post absurd gua kali ini. Note: yg jelas gua engga promosiin doi ya, gua ga dibayar men.

Saturday, August 4, 2018

"Setiap manusia di dunia
Pasti punya kesalahan
Tapi hanya yang pemberani
Yang mau mengakui"
Sherina - Persahabatan

Mengaku salah itu berat. Di dalam salah ada rasa malu, bersebrangan dengan ego, serta rasa marah. Oleh karena itu, sungguh pastas disebut sebagai pemberani bagi setiap insan yang mau mengakui kesalahan. Do you?

Wednesday, July 18, 2018

Rasa -atau dalam konteks kali ini aku akan membahas perasaan- terdiri dari berbagai macam, rasa sedih, senang, takut, dan lainnya. Namun kali ini, aku hanya membahas tentang rasa "tidak suka". Menurutku rasa tidak suka merupakan sebuah kata yang cukup kuat, namun tidak sekuat kata benci. Hal ini sama halnya dengan rasa suka, yang tingkat kekuatannya lebih lemah dibanding cinta. Aku sependapat dengan Noe "Letto":

Terlalu berat bagi manusia biasa untuk bisa mengerti dan menjalani CINTA, ...
-Video klip Permintaan Hati

Walaupun dari segi kekuatan rasa suka dan tidak suka sama-sama memiliki kekuatan yang sama, namun terdapat perbedaan dalam hal penyebab kedua rasa tersebut timbul. Menurutku, "suka" bisa timbul tanpa sebab. Pernah mendapat kasus mengenai seseorang menanyakan, "mengapa kamu suka x?" ? Aku pernah, dan aku hanya menjawab "ya karena suka aja" titik. Namun berbeda halnya dengan rasa "tidak suka". Rasa ini harus timbul dengan sebab. Karena bagiku sangat tidak fair bila rasa "tidak suka" kepada seseorang atau sesuatu tanpa sebab yang padahal belum tentu seseorang atau sesuatu tersebut buruk.

Oleh karena itu, apabila ada seseorang yang tidak suka akan sesuatu/seseorang tanpa sebab, mungkin (lagi-lagi menurutku) orang tersebut sesimpel hanya tidak mau menyebutkan alasannya saja. Ya, aku mengakui kadang aku terlalu malas menjelaskan mengapa aku tidak suka akan sesuatu. Namun sebenarnya penyebab yang paling parah ialah apabila ada orang yang tidak suka kepada sesuatu/seseorang akibat dari ketidaksukaan orang lain terhadap sesuatu/seseorang tersebut.

Tidak bisa dipungkiri, saat ini kita bisa mendapat informasi darimana saja dan kapan saja. Apalagi tahun depan merupakan masa2 pemilu. Banyak dari pendukung masing2 kubu membuat basis medianya sendiri. Dan pastinya ada beberapa media yang memojokkan pihak lawan. Aku rasa hal itu wajar, namun rasanya sangat tidak fair saja bila karena pemberitaan tersebut ada seseorang yg terhasut untuk menjadi tidak suka. Menurutku seseorang tidak berhak untuk menjadi tidak suka akibat ucapan orang lain sebelum dia merasakan secara langsung apa yang dikatakan orang tersebut. Selama hal tersebut belum terjadi, orang tersebut seharusnya bisa bersikap netral.

Contact us

Name

Email *

Message *